vivo-x300-pro

Vivo X300 Pro dengan Origin OS: Review Lengkap

Ada momen ketika sebuah flagship bukan cuma menarik di atas kertas, tetapi juga terasa “klik” saat dipakai. Di tengah gempuran ponsel premium 2025, Vivo datang dengan kejutan: sistem operasi baru untuk pasar Indonesia, plus hardware yang makin brutal. Vivo X300 Pro jadi kombinasi yang memancing rasa penasaran, terutama karena perubahan OS yang digadang sebagai upgrade paling relevan dalam beberapa tahun terakhir.

Vivo X300 Pro hadir sambil menutup celah lama: antarmuka yang dulu terasa datar kini dibuat lebih hidup, lebih fun, dan lebih fleksibel. Bagi pengguna yang memperhatikan detail UI/UX, ini bukan sekadar polesan. Ini langkah strategis agar flagship Vivo tak lagi “dimendingin” hanya karena software.

Singkatnya: perubahan OS akhirnya menyamai agresivitas hardware. Setelah 2–3 paragraf ini, jelas terlihat fokus utama: apakah pengalaman harian benar-benar naik kelas dan relevan untuk pemakaian panjang?

Origin OS di Vivo X300 Pro: UI baru yang lebih fun

Peralihan dari Funtouch OS ke Origin OS adalah headline terbesar. Tampilan kaca ala widget, animasi transisi yang lebih halus, dan grouping elemen yang rapi membuat navigasi lebih intuitif. Quick Settings kini punya ikon besar yang jelas, slider volume bawaan, serta opsi kustomisasi ikon—dari bentuk membulat hingga sudut lebih tegas—memberi ruang personalisasi yang memadai.

Fitur Origin Island menambah kepraktisan. Ia berfungsi sebagai mini preview dan shortcut dinamis: salin nomor, langsung muncul rekomendasi buka Kontak; salin alamat, diarahkan ke Maps. Ini gaya “asisten ringan” yang terasa inovatif tanpa membebani layar. Sistem notifikasi juga lebih terkendali berkat pengelompokan, sehingga aplikasi yang “cerewet” tak lagi menutupi pesan penting.

Artinya: Origin OS menambah kecepatan persepsi. Transisi yang diselaraskan dengan fokus mata, blur kontekstual, dan struktur menu yang jelas memperpendek waktu mencari fitur. Bukan revolusi total, tetapi ini lompatan kualitas yang efektif untuk pengalaman harian—terutama bagi pengguna yang mengincar tren terbaru UI Android.

Performa dan Gaming Vivo X300 Pro: Dimensity 9500 gaspol

Ditenagai Dimensity 9500, RAM 16GB LPDDR5X, dan penyimpanan UFS 4.1 512GB, X300 Pro didesain untuk beban berat. Pengujian menunjukkan rata-rata 59 fps di Genshin Impact pada pengaturan tertinggi di map terbaru—stabil untuk sesi panjang. Suhu puncak sekitar 45 derajat Celsius saat skenario ekstrem; bukan terdingin, tetapi masih aman untuk performa setara konsol genggam. Untuk game ringan seperti MLBB, frame rate tembus 120 fps dan suhu cenderung adem.

Skor sintetis menegaskan posisi chipset ini di papan atas. Skor AnTuTu 10 berada di kisaran 2,8 juta dan AnTuTu 11 menembus 3 juta. Di penggunaan nyata, jeda antar aplikasi nyaris tak terasa, rendering video cepat, dan multitasking berat berjalan mulus. Ini perangkat yang nyaman bagi power user—konten kreator mobile, gamer kompetitif, maupun profesional yang sering memindahkan file besar.

Lihat juga: Xiaomi Pad 8: Upgrade Kelas Flagship di Harga 5 Jutaan

Kamera Vivo X300 Pro dan fotografi kit: zoom tajam

Sisi kamera mempertahankan identitas X series: konsisten dan andal di berbagai skenario. Sensor utama naik kelas dari generasi Lytia 818 ke Lytia 828. Hasilnya, ketajaman di kondisi minim cahaya tetap terjaga, noise ditekan, dan warna cerah tanpa berlebihan. Lebih menarik, lensa ultrawide menunjukkan konsistensi detail mendekati kamera utama—sesuatu yang belum banyak ditemui di flagship lain.

Lensa telephoto dengan sensor besar (1×1,4 inci) menjaga reputasi zoom yang “seram” sejak generasi X100. Foto konser malam dari jarak tribun tetap tajam dengan tekstur yang bersih. Bagi penggemar foto panggung/olahraga, tersedia fotografi kit opsional: lensa tele tambahan dan casing mount. Hasil zoom jadi lebih detail dan “nendang”. Ada pula opsi casing plus grip dengan tombol shutter, dial pengaturan, slider zoom ala kamera, sampai dudukan tripod—cita rasa pro di bodi ponsel.

Kamera depan juga meningkat: sudut pandang lebih lebar, video stabil hingga 4K60, dan hasil selfie tidak “terjepit” frame. Stabilisasinya efektif bahkan saat berjalan cepat, cocok untuk vlogging on-the-go.

Baterai dan Pengisian Vivo X300 Pro: 6510 mAh, 90W, 40W wireless

Baterai 6510 mAh memberi ruang napas besar untuk seharian penuh. Pengisian kabel 90W mengisi sekitar 22% dalam 10 menit, 63% di 30 menit, dan penuh di kisaran 56 menit. Wireless charging 40W tersedia bagi yang butuh kemudahan. Pada streaming YouTube satu jam, konsumsi hanya 6–7%; bermain MLBB setengah jam sekitar 7–8%; Genshin Impact pengaturan tertinggi setengah jam menghabiskan ±16%. Ini profil konsumsi yang masuk akal untuk panel dan performanya.

Panel AMOLED LTPO 6,78 inci 1.5K mendukung 1–120Hz. Ketika konten statis, refresh rate turun ke 1Hz untuk efisiensi; saat scroll, sistem naik ke 120Hz untuk kelancaran. Kecerahan puncak tinggi menjaga visibilitas di bawah matahari. Singkatnya: layar ini seimbang antara tajam, mulus, dan hemat daya.

Di sisi audio, speaker stereo memberikan treble yang tajam—cukup nyaring, walau karakter bass bisa ditingkatkan pada generasi berikutnya agar lebih bulat. Port USB-C 3.2, dukungan dual nano-SIM, dan tata letak tombol yang familier mempermudah adaptasi. Ada tombol shortcut khusus di sisi kiri yang dapat diprogram—dari mengaktifkan center light, membuka kamera, voice recorder, sampai aplikasi pilihan.

Desain, Harga, dan Posisi Pasar Vivo X300 Pro

Desain belakang tampak familier, namun ring kamera kini lebih minimalis dan frame dibuat lebih flat—terasa modern saat digenggam. Bobot dan distribusi beban terasa stabil, membantu saat memotret lama atau bermain game.

Harga naik sekitar Rp1 juta dibanding generasi sebelumnya. Namun, bila dibanding kompetitor, posisinya masih kompetitif. Rival seperti Samsung kelas Ultra atau Oppo kelas Pro biasanya menempatkan harga sedikit lebih tinggi. Dengan paket hardware agresif dan Origin OS yang lebih dewasa, perangkat ini menjadi alternatif menarik di segmen flagship premium.

Dari kacamata konsumen, nilai jual utama ada pada kombinasi kamera yang konsisten, performa yang stabil di beban berat, dan OS yang kini terasa “hidup”. Ini bukan sekadar update kosmetik—ini reinterpretasi pengalaman pakai. Bagi penggemar teknologi yang mencari perangkat harian all-rounder, paket ini terasa lengkap dan inovatif.

Kesimpulan singkat: perubahan OS menutup celah historis, sedangkan kamera dan performa tetap jadi senjata utama. Bagi pencari flagship yang siap dipakai 2–3 tahun, perangkat ini layak masuk daftar pendek.

FAQ

Apakah Origin OS benar-benar berbeda dari Funtouch OS?

Perbedaan utamanya ada pada visual, animasi, dan kustomisasi. Origin OS terasa lebih dinamis, rapih, dan fungsional di penggunaan harian.

Apakah X300 Pro cocok untuk mobile gaming berat?

Ya. Chipset kencang, memori cepat, dan sistem pendinginan yang efektif menjaga fps stabil di judul berat.

Bagaimana daya tahan baterainya untuk penggunaan kerja jarak jauh?

Satu hari penuh aman untuk pekerjaan campur—chat, email, konferensi video, dan navigasi—dengan pengisian cepat saat perlu.

Apakah fotografi kit wajib dibeli untuk foto jarak jauh?

Tidak wajib. Zoom default sudah kuat. Kit menambah detail dan kontrol bagi yang ingin hasil maksimal, misalnya konser atau olahraga.

Apakah layarnya boros daya di 120Hz?

Tidak. Panel LTPO menurunkan refresh rate hingga 1Hz saat konten statis, sehingga konsumsi daya tetap efisien.

Sumber: Gadgetin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top