
Review Redmi K Pad: Tablet Mungil Penantang iPad Mini?
Permintaan akan tablet compact melonjak lagi, dan Redmi menjawabnya dengan pendekatan berani. Dalam Review Redmi K Pad ini, perangkat mungil berlayar 8,8 inci ini tampil sebagai alternatif yang menggoda untuk hiburan, gaming, hingga kerja ringan. Bentuknya ringkas, fit di tangan, namun spesifikasinya mengejutkan.
Kesan pertama langsung mengarah ke kepraktisan. Bobot terasa seimbang, sisi rata memberi grip mantap, dan speaker stereo menembakkan audio cukup kencang untuk maraton Netflix. Singkatnya: ukurannya kecil, ambisinya besar.
Desain Mini, Build, dan Layar 165Hz
Redmi K Pad mengusung panel IPS 8,8 inci dengan refresh rate 165Hz. Navigasi terasa halus, scrolling bebas patah, dan transisi UI HyperOS mengalir. Rasio layar yang memanjang menjadikan black bar video 16:9 lebih tipis, sehingga konten terlihat lebih imersif. Dukungan Dolby Vision/Atmos menambah kesan sinematik, meski karakter suara cenderung terang dengan dentuman bass yang tidak sedalam tablet premium.
Build berkualitas untuk kelasnya. Tidak ada sensor sidik jari, SIM tray, microSD, atau jack 3,5 mm. Di sisi bodi terdapat area magnet untuk stylus ekosistem Redmi. Perlu digarisbawahi, magnet bisa “menempelkan” pensil lain secara fisik, namun itu bukan kompatibilitas fungsi aktif. Artinya: jangan harapkan Apple Pencil bekerja layaknya di iPad.
Pengalaman Multimedia & Widevine L1
Untuk streaming, perangkat ini sudah Widevine L1 sehingga layanan seperti Netflix bisa memutar konten Full HD dengan stabil. Layar yang “ceper” membantu ketika menonton serial atau video YouTube; porsi gambar terasa lega, sudut pandang luas, dan brightness memadai untuk pemakaian indoor.
Baca Juga: Huawei MatePad Mini – Tablet Mini Premium yang Bikin iPad Mini 7 Terlihat Jadul
Performa Dimensity 9400 Plus & Gaming
Chipset MediaTek Dimensity 9400 Plus menjadi jantung performa yang agresif. Skor AnTuTu v11 menyentuh kisaran 2,8 juta, didukung penyimpanan UFS 4.0 dengan kecepatan baca/tulis yang tinggi. Dalam praktik, membuka aplikasi berat terasa cepat, perpindahan aplikasi rapat tanpa lag, dan suhu terjaga dalam sesi harian.
Skenario gaming lebih menarik. Emulator PSP (PPSSPP) dapat dipacu hingga 10x rendering tanpa drop yang terasa. Game PS2 seperti God Hand stabil di kisaran 7x (≈4K internal) dengan fps nyaman. Game modern Wuthering Waves berjalan di pengaturan grafis tinggi 60 fps stabil pada adegan penuh efek. Beberapa judul dari “konsol merah” ada yang belum mulus karena isu kompatibilitas, meski game seperti Cuphead berjalan lancar. Solusi Game Hub ala Gamesir saat ini juga masih kurang optimal di Dimensity 9400 Plus; perlu update kompatibilitas ke depan.
Singkatnya: untuk game mobile dan emulator populer, performanya sangat meyakinkan. Untuk ekosistem emulator/port tertentu, masih bergantung optimasi developer—tren yang wajar pada perangkat baru.
Baterai, Dual USB-C, dan Harga
Baterai 7.500 mAh dikawinkan dengan pengisian 67W. Dari 5–50% tercatat sekitar 27 menit, sementara penuh 100% butuh kira-kira satu jam. Ini tergolong cepat di kelas tablet compact. Sisi paling “inovatif” ada pada dua port USB-C. Port ganda ini membuka opsi passthrough charging saat gaming, reverse charging hingga 18W untuk perangkat lain, bahkan display-out ke monitor USB-C yang kompatibel. Bagi pengguna yang ingin tablet mungil jadi mini-console di layar besar, fitur ini terasa “naik kelas”.
Di sisi perangkat lunak, HyperOS membawa opsi second screen/extend ke laptop—termasuk ke Mac—yang menambah fleksibilitas kerja. Kekurangannya: NFC tidak tersedia, dan posisi kamera depan berada di sisi pendek sehingga rapat video lanskap kurang ideal.
Untuk harga, unit pasar Tiongkok berada di kisaran Rp7 jutaan (tergantung varian dan kurs), sementara di Indonesia melalui jalur non-resmi bisa menyentuh sekitar Rp10 jutaan karena pajak dan biaya impor. Jika rilis resmi, harga bisa lebih kompetitif—namun itu masih menunggu keputusan Xiaomi.
Kesimpulannya, Review Redmi K Pad menunjukkan paket “compact tapi komplet” untuk pengguna yang butuh layar halus 165Hz, performa kencang, dan port serbaguna. Meskipun belum sempurna—terutama soal kompatibilitas game tertentu, absennya NFC, serta posisi kamera depan—namun nilai gunanya kuat di multimedia dan gaming.
Singkatnya: tablet mungil ini merupakan alternatif iPad mini yang realistis bagi pengguna Android, khususnya yang mengejar refresh rate tinggi dan port USB-C ganda. Dengan optimasi software yang terus berjalan, potensinya masih panjang.
FAQ Section:
Apakah tablet ini mendukung Netflix HD?
Ya. Widevine L1 tersedia, sehingga Netflix dapat diputar dalam resolusi Full HD secara stabil.
Bisakah Apple Pencil dipakai di tablet ini?
Tidak secara fungsional. Magnet bisa menempel, tetapi fitur aktif stylus Apple tidak didukung di Android.
Apakah USB-C mendukung display-out?
Ya. Port USB-C kompatibel display-out dan bisa dipakai bersamaan dengan passthrough charging pada monitor tertentu.
Lebih enak gaming di tablet ini atau iPad mini?
Tergantung ekosistem game. Android unggul di emulator dan fleksibilitas, iPad mini kuat di optimalisasi game iOS.
Cocok untuk kerja mobile?
Cocok untuk catatan, browsing, dan second screen via HyperOS. Untuk kerja profesional berat, pertimbangkan layar dan software spesifik kebutuhan.
Sumber: Bestindotech



