
Huawei FreeBuds SE 4 ANC: Review, ANC, Baterai 50 Jam
Segmen TWS murah terus memanas. Produsen berlomba menjejalkan ANC, baterai besar, sampai aplikasi lengkap ke harga Rp200–300 ribuan. Pertanyaannya, apakah pendatang baru dari Huawei ini cuma gimmick, atau benar-benar solid buat pemakaian harian dan penikmat audio kasual? Uji dengar, uji fitur, sampai perbandingan melawan kompetitor di kelasnya memberikan gambaran yang cukup tegas: ada kompromi, tapi juga kejutan manis.
Desain, Aplikasi, dan Kontrol Huawei FreeBuds SE 4 ANC
Desain case bergaya AirPods dengan sudut lebih membulat membuatnya mudah masuk kantong. Earbud bertangkai punya area sentuh yang jelas, sehingga minim salah sentuh. Nozzle oval memberi seal yang nyaman, meski feel “menggigit” ke telinga tidak setegas model bertubuh “kacang”.
- Material dan finishing: rapi untuk kelas harga, engsel case terasa cukup solid.
- Fitting: nyaman, stabil untuk commuting dan kerja; aman untuk sesi jalan cepat, tapi bukan yang paling “mengunci” untuk olahraga berat.
- Aplikasi: kontrol via AI Life tersedia di iOS dan Android. Di sebagian wilayah, pengguna Android perlu unduh dari situs Huawei, bukan Play Store.
- Gesture: double-tap untuk play/pause, triple-tap untuk next/previous (dapat dikustom), press-and-hold untuk siklus noise control. Unik: volume bisa diubah dengan ketukan cepat beruntun (lima kali) di masing-masing sisi—kanan untuk naik, kiri untuk turun—setelah bunyi penanda muncul.
Di aplikasi, pengguna dapat:
- Mengatur mode ANC/awareness, memilih level (termasuk Ultra),
- Membuat preset EQ sendiri,
- Mengelola kontrol sentuh, serta menyalakan low-latency mode.
ANC dan Awareness Mode di Huawei FreeBuds SE 4 ANC
Untuk harga entry-level, kemampuan redamnya “ada dan terasa”, terutama pada hum rendah-menengah (kendaraan, AC). Mode Ultra memberi isolasi paling kentara, namun:
- Masih ada white noise tipis pada lingkungan sangat sunyi,
- Pengaruh tonal muncul tipis: low-mid sedikit berubah, sub-bass bisa terasa bertambah,
- Sesekali adaptasi ANC terasa mengubah persepsi kanal (kanan-kiri) sekejap, tapi jarang dan cepat stabil.
Awareness mode cenderung fokus ke spektrum mid–treble bawah. Suara manusia tetap lewat, namun belum sampai level “lepas TWS”. Singkatnya, berguna untuk interaksi cepat, tapi tidak menggantikan transparansi kelas flagship.
Baca Juga: Acer Swift Go 14: Laptop Tipis dan Tangguh dengan Baterai Super Awet
Kualitas Suara: Tuning, Timbre, dan EQ
Karakter out-of-the-box condong U-shape dengan upper-mids yang tegas. Vokal wanita terdorong, transien gitar akustik tajam, sementara body mid masih menurun tipis. Treble atas relatif aman—tidak menusuk—namun pada volume tinggi, sorotan upper-mids bisa terdengar shouty.
- Resolusi dan separasi: di kelas 200–300 ribu, detail makro sudah solid; pemisahan instrumen layak, soundstage melebar horizontal meski kedalaman belum istimewa.
- Timbre: instrumen perkusi (snare) dan beberapa vokal pria bisa terasa agak “nasal” pada volume kencang. EQ membantu mengembalikan kealamian.
- Bass: sub-bass hadir rapi—kick elektronik dan synth bass di lagu modern punya dentuman yang meyakinkan; mid-bass punch tidak semasif TWS yang sengaja “bass-heavy”.
Rekomendasi EQ (awal yang aman, bisa disesuaikan selera):
- Normal mode: +2 dB di 120–250 Hz untuk menambah body; -2 sampai -3 dB di 3–6 kHz untuk meredam shout; sedikit lift +1 dB di 10–12 kHz jika ingin lebih “air”.
- ANC mode: karena low-mid cenderung berubah, kurangi tambahan di 120–250 Hz menjadi +1 dB, dan jaga cut di 3–6 kHz tetap -2 dB.
Dengan setelan ini, volume bisa dinaikkan ke level sedang tanpa terasa tajam. Musik pop, EDM, dan rock modern menjadi lebih proporsional: vokal tetap maju, namun gitar ritmik dan drum punya bobot yang memadai.
Baterai, Konektivitas, dan Penggunaan Harian
Daya tahan menjadi nilai jual utama. Dalam pemakaian campuran, total baterai case + earbuds bisa mendekati 50 jam—unggul dibanding kompetitor yang rata-rata di kisaran 30–35 jam.
- Konektivitas: stabil untuk streaming dan meeting; low-latency mode membantu gaming kasual.
- Multipoint: tidak tersedia—ini satu kekurangan yang paling sering diminta pengguna produktif.
- Mikrofon: kualitas panggilan “baik untuk harganya”. Artikulasi jelas di ruangan; di outdoor dengan lalu lintas, noise reduction bekerja, meski masih membiarkan sebagian kebisingan lewat.
Untuk kerja jarak jauh, kombinasi baterai besar dan mic yang layak membuatnya cukup andal. Namun, bila multipoint adalah keharusan, perlu melihat opsi lain.
Perbandingan: Tozo AeroSound 3, Air Pro 4i, dan Moondrop Space Travel 2
Di sisi energi bass, Tozo AeroSound 3 cenderung lebih “besar” dengan U/V-shape yang kuat—menghibur di volume rendah hingga sedang, tapi cepat muddy saat digeber. Case transparan dan LED yang menyala saat pengisian bisa mengganggu sebagian pengguna. Sementara itu, Huawei FreeBuds SE 4 ANC lebih mudah “dibalance” via EQ; treble ujungnya juga relatif aman.
Melawan Air Pro 4i (kelas 500 ribuan), perbedaan teknikalitas, timbre, dan imaging mulai terasa. Air Pro 4i terdengar lebih natural, instrument separation lebih bersih, dan panggung lebih rapi. Mikrofon Air Pro 4i juga kompetitif, sementara fit & finish sekelas di atasnya. Namun, mengingat selisih harga, performa Huawei yang bisa “naik kelas” lewat EQ membuatnya tetap value-king di 300 ribuan.
Moondrop Space Travel 2 menawarkan tuning yang cukup ramah audiofil, tetapi daya dan fitur total—terutama baterai—menjadi keunggulan Huawei. Untuk pengguna umum yang menginginkan paket menyeluruh, opsi Huawei terasa lebih praktis.
Rekomendasi Penggunaan
- Musik harian (pop, EDM, hip-hop): aktifkan preset EQ seperti di atas untuk menjaga balance bass dan meredam upper-mids.
- Video dan meeting: aktifkan ANC level sedang agar artefak minimal, awareness saat perlu berbicara.
- Gaming kasual: aktifkan low-latency; perhatikan tidak ada multipoint—pindah device perlu manual.
Baca Juga: Asus ProArt P16 RTX 5090: Laptop Kreator Super Kencang, Siap Singkirkan MacBook Pro?
Kesimpulan
Di kelas harga hemat, Huawei berhasil menyajikan paket yang susah ditolak: baterai panjang, ANC yang benar-benar bekerja, aplikasi lengkap, dan ruang tuning yang fleksibel. Ada kompromi—multipoint absen, white noise tipis pada ANC Ultra, dan timbre yang butuh dibentuk lewat EQ—namun performanya konsisten di atas rata-rata segmen. Untuk yang mencari TWS pertama atau upgrade dari model 100 ribuan, ini salah satu opsi paling aman tahun ini. Singkatnya: hype yang layak.
FAQ
Apakah Huawei FreeBuds SE 4 ANC punya multipoint?
Belum. Pengguna perlu pindah koneksi perangkat secara manual.
Bagaimana cara atur EQ di AI Life?
Buka AI Life > pilih perangkat > Sound/EQ > buat preset kustom. Mulai dari +2 dB di 120–250 Hz dan -2 sampai -3 dB di 3–6 kHz.
Berapa lama baterainya?
Total hingga sekitar 50 jam dengan case pada pemakaian campuran; earbud per pengisian 5–6 jam bergantung volume dan ANC.
Apakah aplikasinya tersedia di Android dan iOS?
Ya. Di sebagian wilayah Android, AI Life perlu diunduh dari situs Huawei.
Seberapa bagus ANC-nya?
Efektif untuk hum rendah-menengah, cukup untuk commuting. Masih ada white noise tipis di mode Ultra dan transparansi belum setara kelas flagship.
Sumber: Fernanda Gunsan

